Negeri Diatas Awan

IMG_20160325_225203.jpg

Tiga tahun yang lalu, suami dapat tawaran hijrah kerja ke tanah Papua. Negeri yang jauh diujung Indonesia, yang julukannya Negri Diatas Awan. kebayang donk apa yang saya jawab pada saat suami menginfokannya kesaya? yaaaa saya langsung jawab “nggak”. Itu jauh banget pikir saya, kami biasa tinggal diibukota yang sibuk dengan hiruk pikuk kota dan terbiasa dengan macet dimana mana serta kehidupan yang ramai diwaktu apapun, baik itu siang maupun malam.

DiPapua, sore aja mungkin udah berasa malem menurut saya pada waktu itu. Akhirnya suami menolak untuk hijrah kePapua.. Alhamdulillah ucap saya pada saat itu.

Ternyata selang beberapa bulan kemudian, kantor suami menawarkan hal sama, yaitu pindah ke Papua.. ohhhh Papua lagi..Papua lagi.. sempat bingung,sebal dan penasaran, apa sih alasan kantor suami yang kayanya ingin sekali memindahkan suami saya ke Papua.

Beberapa hari kemudian,rasa penasaran saya terjawab. Ternyata suami mau dipindahin ke Papua dengan alasan bahasa Inggris beliau bagus, bisa cas cis cus sama bule-bule yang ada disana.. “jangan salah lohhh,walaupun papua itu identik dengan penduduk kulit hitam, tapi pendatang bulenya banyak”. Jadi menurut orang-orang, kalau menghadapi costumer atau pelanggan bule, kita mesti benar-benar bisa pendekatan dengan sangat baik, dan harus menjalin relasi yang sangat baik juga, jadi dibutuhkan orang khusus… ihhh jadi ge er nih.. πŸ™‚

Setelah pertimbangan yang cukup matang dan pencarian informasi yang sangat banyak dari berbagai sumber tentang Papua, khususnya daerah Timika. akhirnya kami memutuskan untuk hijrah ke Negeri Diatas Awan.

Keberangkatan pesawat kami pukul 22.00 wib dengan maskapai Garuda airlines. perjalanan selama 6 jam. Sampai diTimika pukul 06.00 wit. perbedaan waktu antara Jakarta dan Timika adalah 2jam. Sampai disana kami langsung diantar keperumahan tempat tinggal kami, namanya Kuala Kencana. Ternyata Kuala Kencana itu letaknya agak jauh dengan airport di Timika. Tapi ternyata itu adalah sebuah kota kecil yang indah dan sangat tertata rapi yang letaknya didalam kota Timika.. Kebayang gak ada kota kecil di dalam sebuah kota..

Setelah hampir satu bulan saya berada di Timika, saya sering mendengar cerita tentang perang suku disana. Waktu itu tepatnya 01 November 2013, saya mau menjemput suami ke airport Mozez Kilangin Timika, suami saya baru aja turun dari kota tambang Tembagapura. Saya menyetir mobil sendiri pada saat itu,ditemani oleh anak-anak saya yang masih kecil-kecil. dipertengahan jalan mobil saya dan beberapa mobil lainnya dihadang oleh segerombolan orang asli Papua yang membawa senjata berupa tombak panjang. Saya udah ketakutan, saya cuma bisa berusaha lari dari gerombolan dengan memutar balik arah mobil dan sembunyi didalam parkiran sebuah gedung. Tapi saya gak bisa lama-lama ada digedung itu,karna pasti kalau saya ketahuan mereka,pasti saya bisa jadi korban.Mau lanjut kearah airport, masa sudah banyak didepan saya, mau balik arah pulang,jalanan sudah ditutup sama ratusan aparat kemanan dan mobil tank yang besar besar. Akhirnya saya ambil jalan yang menuju hutan, saya sendiri gak tau itu tembus jalannya kemana. Diperjalanan saya cuma bisa berdoa dan menangis, untung anak-anak saya pada saat itu gak ikut nangis, mereka malah bantuin saya untuk selalu istiqfar. Alhamdulillah setelah sekian lama saya nelusurin hutan, akhirnya ujungnya saya sampai didekat airport, rasa syukur yang cuma bisa saya ucapkan pada saat itu.

Bulan demi bulan, bahkan Tahun demi Tahun saya jalanin hidup dinegri yang jauh diujung Indonesia. Walaupun begitu banyak kerusuhan yang terjadi disana,bahkan perang suku yang beritanya selalu ada di media televisi. Tapi saya suka hidup disana. Tempat yang begitu indah, masyarakat yang ramah, kerukunan sesama pendatang yang sudah seperti saudara sendiri, dan komunitas muslim yang kuat yang terjalin diantara kami. Disana kami sering sekali didatangi oleh Ustad-ustad dan Habib-habib kondang, bahkan Habib Ahmad yang berasal dari Yaman pernah sarapan dirumah saya. HJ.  Irena Handono dari Jakarta,  Syekh Ali Jaber,  Ust. Wijayanto, Habib Zindan bin Novel yang sempat mendoakan anakku pas di ulang tahunnya 25 April. Alhamduliallah tali sillaturahmi antar muslim sangat erat terjalin.

Papua… kau itu bagai intan yang ditemukan didasar laut. Begitu indah alamnya, cantik,dan tidak membosankan. Walaupun jauh dari hirukpikuk ibukota,jauh dari keramaian kota, tapi pemandangan yang cantik, udara yang segar,dan tempat yang indah membuat saya ingin kembali lagi kesana.

Saya berharap segala konflik yang ada diPapua akan segera diatasi, tidak ada lagi perang suku, tidak ada lagi kericuhan dimana-mana. Karena kamu begitu cantik.. I Love Papua..

Tiga tahun saya tinggal di Papua. Dan sekarang suami dan saya dimutasi lagi ke daerah Jawa, tepatnya Semarang.. Semoga kami betah tinggal disini, semoga kota ini  akan meninggalkan kesan indah yang sama dengan Papua. Terimakasih yaAllah atas segala nikmatmu.. Aamiin..

Papua..Negeri Diatas Awan…

Love Novia

Iklan

4 thoughts on “Negeri Diatas Awan

  1. Ya Allah mbak..critamu kya di film2 action.. hebat kmu mbak.. klo aq plg diam aja sambil nangis g selese2 mbak..
    Tp kyanya indah bgt mmg ya mbak.. dingin brarti d sana mbak? Bnykin foto2 pas dsana donk mbak…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hihihi.. Maunya sih diem trus nangis udah gitu berharap ibu peri dateng, tiba2 dah dipindahin aja kepadang rumput yang indah.. Tapiiiiiiii… Kalo aku diem, aku dan anak2 bisa kena panah mba. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.. Jadi terpaksa banting stir, kabur n masuk hutan.. Untung masih ketemu sama kehidupan beneran didepannya. Hihihi. Habis gelap terbitlah terang. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜„πŸ˜„

      Suka

    1. Iya mba.. Tempatnya ngangenin banget mba. Pingin balik kesana lagi. Hehe.. Tp jawa gak kalah keren juga, banyaj tempat bagus. Blm sempet datengin semua aja.. Mksh mba swastika πŸ˜‰

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s